Banten

Parlemen

Politik

Hukum

Ekbis

Peristiwa

Olahraga

Calon Dewan

Nasional

Dunia

Gaya Hidup

Opini

Perludem: Narasi Pewajaran 'Asian Value' untuk Praktik Dinasti Berbahaya Buat Demokrasi

Laporan: Tim Redaksi
Sabtu, 08 Juni 2024 | 17:26 WIB
Direktur Eksekutif Perkumpulan Pemilu untuk Demokrasi (Perludem) Khoirunnisa Nur Agustyati. (Foto: Dok Antara)
Direktur Eksekutif Perkumpulan Pemilu untuk Demokrasi (Perludem) Khoirunnisa Nur Agustyati. (Foto: Dok Antara)

RMBANTEN.COM - Politik, Jakarta - Praktik politik dinasti deangan narasi pewajaran karena Indonesia masih kental akan Asian values (nilai Asia) di masyarakat tidak bisa dibenarkan dan sangat berbahaya demokrasi.

Pernyataan itu disampaikan Direktur Eksekutif Perkumpulan Pemilu untuk Demokrasi (Perludem) Khoirunnisa Nur Agustyati kepada Media Indonesia yang dikutip kembali Kantor Berita RMN, Sabtu (8/6).

Ditegaskan, Khoirunnisa narasi itu sangat berbahaya dan dapat merusak demokrasi yang dulu pernah mati-matian diperjuangkan di masa reformasi.

Dikatakan Ninis, sapaan akrab Khoirunnisa, hal itu menunjukkan adanya kemunduran dari kesadaran masyarakat soal pentingnya penegakan demokrasi.

"Politik dinasti itu menjadi masalah karena membuat proses rekrutmen politik kita bermasalah. Karena dengan kita menormalisasi politik dinasti, kita mendorong yang demokratis dan terbuka jadi tidak berjalan,” ujar Ninis usai diskusi tentang ‘Evaluasi Pelaksanaan Pemilu 2024’ di Jakarta Pusat, Jumat (7/6)

Menurut Ninis apabila politik dinasti dilanggengkan, maka kader partai politik yang selama ini berproses mulai dari bawah, mengikuti proses rekrutmen sesuai prosedur dan mekanisme yang jelas, akan kalah dengan mereka yang memiliki hubungan kerabat atau keluarga.

"Privilege atau kesempatan istimewa yang dimiliki kader yang punya hubungan kerabat dengan elite tentu mematikan karier politik orang lain yang selama ini berproses dengan baik," ujarnya.

Sementara, kata Ninis, di situasi yang lain, parpol kita hari ini juga belum berjalan dengan baik.

"Proses rekrutmen tidak terbuka. Parpol itu kan situasinya ketika proses rekrutmen, mana yang punya modal banyak, yang punya kedekatan dengan elite, diutamakan,” ucap Ninis.

"Jadi tidak sehat. Tidak fair dengan kader yang sudah berpolitik dari bawah, membesarkan partai, bersaing dengan mereka yang punya privilege. Itu jadi susah. Itu bahayanya politik dinasti. Tapi herannya ini kok jadi sesuatu yang dinormalkan,” demikian tutup Ninis.rajamedia

Komentar: