Banten

Parlemen

Politik

Hukum

Ekbis

Peristiwa

Olahraga

Calon Dewan

Nasional

Dunia

Gaya Hidup

Opini

Pedes Kuy! Cak Imin: Mosok Jurnalisme Cuma Kutip Omongan Jubir atau Copy Paste Rilis

Revisi UU Penyiaran

Laporan: Tim Redaksi
Kamis, 16 Mei 2024 | 21:59 WIB
Ketum PKB Muhaimin Iskandar. (Foto: Repro)
Ketum PKB Muhaimin Iskandar. (Foto: Repro)

RMBANTEN.COM - Parlemen, Jakarta -  Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Muhaimin Iskandar (Cak Imin)  berharap Revisi Undang-undang (RUU) Penyiaran diharapkan dapat menampung seluruh aspirasi masyarakat dan insan media.

Dikatakan Cak Imin UU Penyiaran harus mampu mengatasi tantangan jurnalisme dalam ruang digital tanpa mengancam kebebasan berekspresi.

Menurut Cak Imin, pelarangan penyiaran program investigasi sama dengan membunuh jurnalisme. Sebab, kata Kerum PKB itu, kabar-kabar pendek, seperti breaking news atau info viral, saat ini relatif diambil alih media sosial.

"Karenanya, jurnalisme investigasi sangat diandalkan dalam melahirkan informasi yang panjang, lengkap, dan mendalam," ujar Cak Imin.

"Mosok jurnalisme hanya boleh mengutip omongan jubir atau copy paste press release?” sambun Cak Imin, dalam keterangan persnya, Kamis (16/5).

Ditegaskan Cak Imin, ketika breaking news, live report, atau berita viral bisa diambil alih media sosial, investigasi adalah nyawa dari jurnalisme hari ini.

"Dalam konteks hari ini, melarang penyiaran program investigasi dalam draf RUU Penyiaran pada dasarnya mengebiri kapasitas paling premium dari insan pers. Sebab, investigasi tidak semua bisa melakukannya,” ujarnya.

Cak Imin mengatakan, program Buka Mata dari Narasi TV, Bocor Alus dari Tempo, atau film dokumenter Dirty Vote yang tayang di kanal YouTube Watchdoc sebagai produk jurnalisme investigatif terkini.

Menurut Cak Imin, Dirty Vote mampu memberikan perspektif dan informasi penting yang dibutuhkan publik dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

"Dirty Vote, Buka Mata, dan Bocor Alus adalah salah satu produk jurnalisme investigasi yang mampu memenuhi kebutuhan publik akan informasi yang kredibel,” ungkapnya.

Dia mengatakan, karya-karya seperti itu perlu didukung karena akan membawa kebaikan bagi bangsa.

“Sama halnya dengan karya-karya kreatif lain yang hanya dapat muncul jika diberi ruang kebebasan," tuturnya.

Cak Imin  mengaku paham betul pentingnya kebebasan berpendapat bagi masyarakat dan pers.

Sebab, dia pernah bekerja sebagai jurnalis ketika menjabat Kepala Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Tabloid Detik pada 1993 yang pernah mengalami pembredelan oleh rezim Orde Baru.rajamedia

Komentar: