Banten

Parlemen

Politik

Hukum

Ekbis

Peristiwa

Olahraga

Nasional

Dunia

Gaya Hidup

Opini

Direktur CSIIS: Cawapres Itu Hasil Kompromi Politik, Bukan Hasil Elektabilitas Survei!

Laporan: RMN
Minggu, 25 Desember 2022 | 20:03 WIB
Meneg BUMN Erick Thohir dan Ketum PBNU Gus Yahya merupakan salah satu cawapres potensial yang tidak memerlukan survei tapi kompromi politik/Repro
Meneg BUMN Erick Thohir dan Ketum PBNU Gus Yahya merupakan salah satu cawapres potensial yang tidak memerlukan survei tapi kompromi politik/Repro

RMBanten.com, Politik - Karena posisinya lebih berfungsi sebagai penyeimbang bagi capres, maka posisi cawapres tidak perlu survei-surveian.

Sosok cawapres itu nantinya akan menjadi hasil kompromi dari berbagai kelompok dan kepentingan ataupun keutuhan bangsa.

Begitu disampaikan Direktur Eksekutif Center for Strategic on Islamic and International Studies (CSIIS), Dr. Sholeh Basyari mengomentari temuan salah satu lembaga survei yang menjagokan Erick Thohir sebagai cawapres potensial pada Pemilu 2024 mendatang.

Sholeh menerangkan pada Pilpres 2019 lali, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih KH Ma'ruf Amin sebagai cawapres, sama sekali tidak berdasarkan elektabilitas.

"Waktu itu yang paling terlihat adalah kepentingan keutuhan bangsa, Jokowi sangat perlu sosok yang seorang ulama yang bisa mempersatukan. Makanya Kiai Ma'ruf jadi pilihan, padahal sebelumnya tidak ada satupun lembaga survey yang memasukkan nama Kiai Ma'ruf," ujar Sholeh dalam kepada Raja Media Network (RMN),  Minggu (25/12/).

Pun dengan pemilihan Sandiaga Uno oleh Prabowo Subianto pada Pilpres 2019, juga bukan berdasarkan elektabilitas atau hasil survey, tapi merupakan pertimbangan kebutuhan akselerasi kampanye.

"Sandiaga pada waktu bisa memenuhi kebutuhan yang diperlukan Prabowo dan para partai pendukungnya," ujar Sholeh.

"Sandi juga hasil kompromi. Tidak ada itu nama Sandiaga pada survey-survey sebelum Pilpres 2019. Karena saat itu lembaga survey juga tidak yakin Sandi akan bertarung. Sandi itu baru jadi Wagub DKI," sambung  itu.

Cawapres Kompromi

Untuk itu tegas aktivis muda NU ini,  nama-nama yang saat ini muncul di lembaga-lembaga survey, pada saatnya nanti belum tentu juga akan menjadi cawapres.

Kata Sholeh, yang paling berpotensi untuk menjadi cawapres itu hanya ada beberapa nama, bahkan ada yang tidak pernah masuk survey.

"Potensi terbesar Erick Thohir, ini merupakan hasil 'kompromi' terbaik sebagai cawapres. Siapapun capresnya, baik Prabowo, Ganjar ataupun Anies. Erick bisa memenuhi semua kriteria," ujar Sholeh.

"Pandangan saya nama Kiai Said Aqil Sirodj, nanti pasti akan masuk dalam nama yang akan dikompromikan. Terus ada Mahfud MD dan Gus Yahya (Ketum PBNU)," sambung Sholeh.

Sholeh menggarisbawahi, nama-nama Sandiaga Uno, Ridwan Kamil sampai Khofifah justru tidak masuk dalam kompromi itu.

"Sepertinya nama-nama itu tidak masuk kompromi," ujar Sholeh.

Sambung Sholeh, nama yang berpotensi dan memiliki peluang besar bagian dari kompromi cawapres, adalah Puan Maharani, Muhaimin, Airlangga dan AHY.

"Dari kelompok partai politik, Cak Imin, Puan, Airlangga dan AHY. Komprominya tentu soal kebutuhan ambang batas atau PT," imbuhnya.

Lanjut Sholeh, jika saat ini ada banyak nama yang mengapung sebagai cawapres di lembaga survey, itu hanya untuk menambah bahan sebagai posisi tawar.

Karena setiap yang berniat maju sebagai cawapres itu, sebenarnya sudah bergerak dengan cara masing-masing.

"Semua sudah bergerak kok. Seperti Erick Thohir itu, sudah hampir pasti akan berlaga di Pilpres 2024. Dia sudah pegang tiket itu," demikian tutup Sholeh Basyari.rajamedia

Komentar: