Banten

Parlemen

Politik

Hukum

Ekbis

Peristiwa

Olahraga

Nasional

Dunia

Gaya Hidup

Opini

Azmi Abubakar 'Cabut' Dari PSI, Pengamat Bilang Begini

Laporan: Rizki Ahmad Suhaedi
Kamis, 01 September 2022 | 16:35 WIB
Azmi Abubakar mundur dari kader dan kepengurusan PSI/Repro
Azmi Abubakar mundur dari kader dan kepengurusan PSI/Repro

RMBanten.com -  Keluarnya Azmi Abubakar dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dikritisi pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Achmad Chumaedy.

Menurutnya, pilihan atas sebuah parpol pada dasarnya adalah sikap dan jalan hidup, yakni pengabdian tanpa pamrih bagi kebajikan dan kemaslahatan kolektif. 

Sikap dan jalan hidup seperti itu semestinya menjadi pilihan tanpa kompromi para politisi jika mereka bertolak dari filosofi berpartai dan konsisten dengan haluan perjuangan parpol yang bersangkutan. 

Jika seorang politisi menghargai keyakinannya untuk berjalan lurus di atas haluan perjuangan parpol, seharusnya mundur dan pindah parpol disikapi sebagai perilaku tabu dan bahkan haram. 

Sangat mengherankan apabila para politisi kita begitu ringan hati mundur dari parpol, seolah-olah perilaku demikian sebagai hak politik dan tindakan yang lumrah.

"Hal ini terjadi oleh saudara azmi Abubakar sebagai kader inti PSI saya menilai ada hal yang tidak wajar dilakukan," katanya saat dikonfirmasi pada Kamis, (1/9). 

Kata Memed, Azmi selaku dewan pembina dan pendiri parpol PSI harus meninggalkan partai yang sudah membesarkan dirinya.  Dan melihat kondisi PSI yang adem ayem memjadi pertanyaan kenapa azmi mundur disaat kondisi partai yang terlihat adem ayem.

"Selain azmi, sebelumnya sudah dilakukan juga oleh mantan wamen ATR/ BPN, sunny dan tsamara amany, melihat kader potensial tersebut petanda bukan problem personil anggotanya, tapi sepertinya ada problem institusi partai politiknya tersebut," terang pria yang biasa disapa Memed ini.

Kata dia, PSI memang fenomenal bagi kalangan milenial, pelibatan anak muda dalam politik menjadi menarik perhatian karena partai ini kritis terhadap problem intoleran, radikalisme, gender dan lain-lain.  

"Problematika mundurnya kader inti  potensial terjadi di era Giring Nidji jadi ketua umum," tegas Memed. 

Menurut Memed, ada beberapa faktor melemahnya PSI dimata kadernya sendiri.

Pertama, PSI sudah kehilangan Issue sehingga platform PSI keluar dr marwah asal parpol tersebut.

Kedua, Kaderisasi tidak berjalan baik. Ketiga, Figur nidji sebagai ketua umum tidak marketable sebagai  ikon parpol anak muda. 

Keempat, terlalu subjektif menyikapi masalah dan kelima, komunikasi yang tidak baik.

"Alhasil, melihat hal tersebut kiranya wajar para kader inti hengkang dari parpol tersebut," pungkasnya.rajamedia

Komentar: